Senin, 21 Desember 2009

MUSIK & SIASAT ADUDOMBA


Berikut adalah artikel yang saya tulis untuk bahan Feed The Noise Back Zine yang saat ini hanya berjalan di sektor web media/webzine (FEEDTHENOISEBACK.BLOGSPOT.COM)

Pergerakan anti-anti suatu genre musik notabene lebih banyak menggunakan siasat adudomba seperti strategi para penjajah Belanda. Selain hanya membuang waktu sia-sia, cara tersebut tidak efektif dalam kemajuan seni musik apalagi jika direalisasikan oleh sekelompok kecil individu yang tidak tahu apa-apa dampak dari tindakannya. Awalnya memang murni bertujuan untuk memusnahkan suatu kekuatan komunitas musik tertentu, namun dengan berbagai pertimbangan dimana genre yang ditentangnya adalah genre yang berpengaruh besar dalam ruang lingkup musik kebanyakan, maka otomatis apa yang menjadi kekuatan yang ditentang justru akan semakin kuat, menjadi pemersatu tanpa melihat derajat individu apapun. Seperti hal yang disengaja. Disinilah kita berbicara mengenai provokasi.

Apa tujuan provokasi? Saya tidak tahu tepatnya bagaimana karena saya tidak berpengalaman memiliki profesi sebagai pengadudomba. Sejauh yang saya tahu, provokasi musik selalu terjadi jika suatu sistem dalam komunitas musik tertentu berada dalam pemikiran-pemikiran independen yang sedang berjalan kaku, sarat akan krisis identitas dan mengalami stagnasi. Jadi dalam arti provokasi itu memang hal yang disengaja untuk menghidupkan kembali apa yang telah usang atau juga hal yang disengaja untuk kepentingan kelompok musik tertentu, demi kebesaran nama.

Jika suatu kelompok/komunitas musik tertentu besar hanya karena sebuah wacana provokasi, hal itu belum tentu mengindahkan estetika seni musik yang ada. Semua berjalan hanya demi kepentingan pribadi dan kelompok. Demi kepentingan internal yang menguntungkan sepihak. Seperti yang dikatakan kawan saya, Mas YY, semua hanya bertujuan untuk “jualan”. Provokasi bagaikan modal seorang investor yang kehabisan ide untuk menguntungkan usahanya selain dengan cara mengadudomba.

Provokasi juga termasuk ke dalam manifesto radikal yang dilancarkan atas nama misi kepentingan mendesak terutama jika kita berbicara mengenai suatu persaingan yang tidak sehat antara satu individu dengan individu yang lain. Meski individu tersebut berada dalam satu jalur yang sama, tidak menutup kemungkinan adanya kompetisi untuk berkuasa alias oligarki. Penyebaran isu yang tidak jelas dan provokatif serta penyalahgunaan kesewenangan menjadi senjata utama.

Seni musik akan kehilangan kaidahnya jika masyarakat lebih memihak prinsip keberadaan ideologi. Jika tujuan provokasi sebatas kepentingan uang, maka kaidah musik secara tidak langsung telah disingkirkan sebab keberhasilan yang diraih hanya berada dalam ruang lingkup ideologi yang cacat. Resiko terbesar tahap ini adalah lahirnya kelompok-kelompok atau komunitas musik yang membangun ideologi baru dimana visi dan misi mereka tidak berlandaskan kepada seni musik yang hakiki. Representatif “pemikir” dari sebuah kelompok yang diakui atau tidak, mengkonstruksi berbagai teori dan ideologi yang tidak ada sangkut pautnya dengan seni musik. Hanya demi uang. Bisa dibayangkan jika kelompok-kelompok tersebut yang berkuasa, musik hanya akan menjadi ajang persaingan pasar belaka tanpa mengindahkan estetika seni yang murni.

Oleh sebab itulah, jika kita masih ingin memiliki kebebasan dalam berkarya sebagaimana menjalankan estetika seni musik yang murni, sebaiknya kita tidak mendukung apapun pergerakan provokasi yang dicanangkan bersama isu-isu yang tidak jelas. Provokator manapun tidak dapat mengafiliasikan diri mereka dengan perjuangan dalam upayanya untuk meraih dominasi maupun menciptakan tatanan komunitas musik yang baru. Kita adalah seniman yang bebas. Dan kebebasan itu semakin lama semakin mahal. Gunakan waktu sebaik-baiknya untuk berkarya selagi masih ada kesempatan. 



Sumber : catatan Mirantie Lee Boreel
Readmore »

Sabtu, 19 Desember 2009

GRUNGE : SEBAGAI SUBKULTUR DAN GAYA


Saya tidak begitu tahu segalanya mengenai sejarah masuknya Grunge ke Indonesia atau siapa yang pertama kali mengusung bendera Grunge di tanah air ini. Nama TOILET SOUND muncul di benak saya dengan pertimbangan bahwa mereka adalah band Grunge dari Jakarta yang sering manggung di POSTER Café tahun 1996, dimana pada saat itu sangat sedikit band pengusung Grunge semacam mereka bisa gigs disandingkan dengan band-band Underground Indonesia generasi pertama seperti Brain The Machine, Bloody Gore, Jepit Rambut, Dead Pits, Rumah Sakit, dan lain-lain yang sudah getol pentas di POSTER café. 

Tapi saya mohon maaf sebesar-besarnya bahwa saya tidak akan mengulas siapa-siapa para “pendekar” Grunge, disini saya hanya akan membahas segi antropologi musik Grunge saja. Kajian tentang cara mengenali suatu budaya dari komunitas tertentu dan menghubungkannya dengan kehidupan sosial masing-masing individu yang berpengaruh juga terhadap komunitas Grunge Indonesia. 

Kita tahu Grunge itu memiliki karakteristik gaya yang tidak jauh berbeda dengan subkultur lainnya (terkesan urakan). Jeans bolong, flannel, sepatu kets, dan rambut panjang yang jarang dikeramas. Tapi sebenarnya Grunge justru lahir karena kemuakan generasi muda terhadap gaya. Dimulai sejak akhir tahun 1980-an, para generasi muda dari Seattle Sound merombak segala bentuk gaya menjadi sesuatu yang “tak bergaya” sama sekali. Terkesan menjijikan karena teramat kotor dan jauh dari segala bentuk yang “cemerlang” apalagi mewah. Jika analogi tersebut murni adanya, lalu mengapa saat ini di era 20 tahun telah berlalu, dimana flannel telah menjadi suatu gaya yang usang, anak-anak Grunge masih memakai segala atribut tersebut? Bagaimana jika kita lebih menitikberatkan pada yang “terkesan menjijikan karena teramat kotor dan jauh dari segala bentuk yang “cemerlang” apalagi mewah” itu? Flannel, jeans bolong, sepatu kets sudah tidak lagi terkesan urakan sebagai akibat komoditas bisnis di bidang fashion yang telah “menjual” ke-grungy-an Seattle Sound. 

Akar permasalahan yang sering dibicarakan mengenai musik independen tidak akan jauh-jauh dari persoalan tentang gaya/fashion. Saya juga agak terganggu dengan orang-orang yang selalu mempertanyakan kenapa gaya atau fashion itu terkesan dipentingkan dalam pergerakan subkultur. Ok, saya ajak kalian untuk menilik tulisan Dick Hebdige dari bukunya yang berjudul “Asal-Usul dan Ideologi Subkultur Punk” (Subculture ; The Meaning Of Style Routledge, London dan New York, 1999, Cetakan XIII. Diterbitkan pertama kali oleh Methuen & Co. Ltd. 1979). Ya, mungkin agak terkesan aneh kenapa saya lebih memilih referensi dari buku-buku Punk, tak lain karena sesungguhnya semua kode etik Do It Yourself memang lahir karena Punk. Dalam buku tersebut diatas dikatakan bahwa gaya memiliki tujuan dan karakteristik tertentu, yaitu :
1. GAYA SEBAGAI KOMUNIKASI INTENSIONAL. Mengartikulasikan kode dan praktik spesifik.
2. GAYA SEBAGAI BRICOLAGE. Menegaskan perbedaan subkultur dari formasi budaya yang lebih ortodoks. Mengacu pada sarana dengan apa pikiran nir-terpelajar, nir-teknis dari apa yang kita sebut manusia “primitif” menanggapi dunia sekitarnya. Proses ini memakai “sains konkret” (sebagai lawan dari sains “beradab” kita yg “abstrak”), jauh dari tak memiliki logika, ternyata ia disusun dengan saksama dan cermat, dengan menggolong-golongkan dan menata rincian remeh di dunia fisik yang demikian melimpah ruah itu menjadi struktur, dengan memakai sarana “logika” yang bukan milik kita sendiri. Struktur ini, “diimprovisasikan” atau dibuat-buat (ini terjemahan kasar dari bricoleur) sebagai tanggapan ad hoc terhadap suatu lingkungan. Ia kemudian berperan dalam menyusun homologi dan analogi antara yg disusun alam dan yang disusun masyarakat, dan dgn sangat memuaskan “menjelaskan” dunia ini dan membuatnya dapat dihuni.
3. GAYA MEMBERONTAK : GAYA “MENJIJIKKAN”. Mengekspresikan penyimpangan dengan pengertian proletarian yang sepadan.
4. GAYA SEBAGAI HOMOLOGI. Melukiskan kecocokan simbolik antara nilai-nilai dan gaya hidup suatu kelompok, pengalaman subjektif serta forma musik yang dipakai untuk mengekspresikan atau memperkuat kepedulian pokok.
5. GAYA SEBAGAI PRAKTIK SIGNIFIKASI. Menguak sejumlah makna tersembunyi yang baku, dibuang demi gagasan polisemi di mana masing-masing teks dipandang membangkitkan kisaran makna yang tak terbatas kemungkinannya.

Sedangkan Simbolik adalah bagian besar bahasa yang menamai dan menghubungkan segala sesuatu, inilah kesatuan dari KOMPETENSI SEMANTIK dan SINTATIK yang memungkinkan tampilnya komunikasi dan nalar. 

Menilik dari pembahasan gaya dalam buku tersebut bahwa gaya/fashion juga merupakan salah satu senyawa penting dalam berekspresi sehingga kita dapat mengenali maksud dan tujuan dari gaya yang diterapkan seorang individu maupun kelompok. Musik dan fashion tidak akan pernah lepas satu sama lain. Sebab keduanya merupakan pengejewantahan kebebasan berekspresi dalam segi estetika maupun adab. 

Grunge lebih dekat kesamaannya dengan ciri khas Punk, memiliki gambaran „menjijikan“ masing-masing yang bagi sebagian besar masyarakat tidak nyaman untuk dipandang. Disini kita berhadapan dengan gaya sebagai pemberontakan terhadap sistem yang menyimpang, bertujuan untuk merombak segala kemapanan yang bodoh dan menindas. Generasi muda sudah bosan dengan segala atribut gaya hasil buatan pabrik dimana corak budayanya berbau proletarian/pemaksaan dan menuntut mereka untuk seragam. Bosan dengan keadaan yang itu-itu saja dan berharap dengan melakukan perubahan akan membuat hidup mereka menjadi lebih nyaman untuk dijalani. 

Meskipun ada hubungan erat, integritas kedua forma ini tetap dipertahankan dengan cermat. Jauh dari meniru forma lain dan cenderung berkembang menjadi antitesis langsung dari sumber-sumbernya yang nyata. Namun, cara kedua forma ini dipisahkan dengan ketat, seolah-olah hendak membawa kita kepada identitas tersembunyi, yang pada gilirannya dapat dipakai untuk menjelaskan pola interaksi. Grunge dan Punk secara metaforis dapat diperluas ke isu ras dan hubungan ras yang lebih besar sehingga terjadi krisis identitas, berkaitan dengan kontradiksi dan ketegangan lebih umum yang menghalangi berkembangnya dialog terbuka antar kultur. 

Ketika suatu musik dan aneka subkultur yang didukung atau reproduksi mengalami kekakuan dan dapat dikenali polanya, terciptalah subkultur baru yang membutuhkan mutasinya dalam bentuk musik. Mutasi ini baru terjadi ketika overdeterminasi musik Seattle Sound merusak struktur musik yang telah ada dan mendesak berbagai unsurnya ke suatu figurasi baru, sebagai contoh yaitu ketika Nirvana sukses menggeser posisi King Of Pop Michael Jackson di peringkat teratas industri musik dunia pada tahun 1991, budaya Pop yang merajai tahun 80an pun menjadi mati dan diganti dengan wajah Grunge sebagai mutasi untuk figurasi baru tersebut : celana sobek, sepatu kets (Converse), rambut acak yang kesemuanya merupakan ciri khas Kurt Cobain, menjadi trend di kalangan anak muda dunia. 

Grunge dengan demikian termasuk ke dalam forma ekspresif sebagai bentuk resistensi di mana kontradiksi yang dialami maupun penolakan terhadap ideologi yang berkuasa secara tak langsung direpresentasikan lewat gaya. Melahirkan tampilan dan sound baru yang menjadi umpan balik bagi industri-industri yang sesuai (forma komoditas). Seperti dicatat John Clark : „penyebar luasan gaya pemuda dari subkultur menuju ke pasar fashion bukan sekedar proses kultural, melainkan suatu jejaring atau jenis baru institusi komersial dan ekonomi. Toko-toko rekaman berskala kecil, perusahaan rekaman, butik atau perusahaan produksi yang dikelola satu dua perempuan – kapitalisme versi artisan ini, alih-alih fenomena yang berlaku umum dan tak khas, menjadi konteks dialektika manipulasi komersial tersebut.“
















Sumber : catatan Mirantie Lee Boreel
Readmore »

Sabtu, 12 Desember 2009

DOWNLOAD FULL ALBUM

Musik grunge terbilang aliran musik yang masih jarang di Indonesia..untuk itu saya berharap dengan adanya link download ini berharap grunge dapat lebih berkembang..berikut album2 dari band2 grunge yang pernah dan masih ada..(maaf sebelumnya kalau belum semua saya lampirkan dalam tulisan ini...saya masih nge cek link download yang lain apa masih berlaku atau tidak...menyusahkan atau tidak..)

Silverchair – Neon Ballroom(1999)
tracklist:
1. Emotion Sickness 6:00
2. Anthem For The Year 2000 4:07
3. Ana’s Song (Open Fire) 3:42
4. Spawn (Again) 3:27
5. Miss You Love 4:00
6. Dearest Helpless 3:34
7. Do You Feel The Same 4:18
8. Black Tangled Heart 4:33
9. Point Of View 3:35
10. Satin Sheets 2:24
11. Paint Pastel Princess 4:33
12. Steam will rise
  1. Silverchair - Diorama
  2. Silverchair - Freak Show
Readmore »

Senin, 07 Desember 2009

TERUSIK

Baru-baru ini di facebook muncul sebuah grup yang menamakan dirinya "Anti Grunge"..saya tidak tahu apa maksud dan tujuan dibuatnya itu group, namun saya merasakan sedikit kecewa karena mereka membawa nama slankers, dengan demikian hal tersebut dapat mengakibatkan timbulnya perselisihan antara kami (people grunge) dengan komunitas slankers.
Saya juga merasa prihatin dan kasihan untuk para ADMIN dalam group tersebut karena mereka tidak benar benar mengerti atau bahkan mengetahui tentang bermusik, mereka hanya sekelompok bocah ingusan yang ingin eksis di dunia maya, namun dengan cara yang salah. Kalian bebas mengekspresikan diri dan kepribadiaan kalian hanya saja dengan jalur dan cara yang benar,,kami yang notabene anak anak grunge (atas nama seluruh group grunge baik lokal maupun tingkat nasional) tidak akan tinggal diam dengan semua penghinaan ini...
Entah apa lagi yang harus saya tulis untuk mengekspresikan kekecewaan ini...
To All People Grunge : "Bangkit dan melawan"
Beberapa contoh kasus yang pernah dialami oleh saudara kita sesama anak grunge
kejadian ini dialami oleh saudara kita  Mirantie Lee Boreel


Apa yg akan gw ceritakan disini adalah betul2 terjadi, tidak ada rekayasa. 

Menanggapi masalah adanya grup FB 'ANTI GRUNGE' & 'ANTI GRUNGE SUKABUMI' telah menyinggung banyak pihak baik di dlm maupun luar komunitas Grunge. Sudah sering kali terjadi wacana perseteruan antara gw pribadi dgn bbrapa anak2 yg ngakunya anak musik di Sukabumi jg. Bawa nama Slanker lah, Punk lah, dll. Awal perseteruan hny brlangsung di bbrpa acara musik yg menyebabkan bnyk pertikaian, pengkotakan, rusuh antar komunitas. Perseteruan smakin memuncak ketika pd suatu dini hari gw, Mirantie Lee Boreel, dikeroyok dan dipukuli sendirian oleh anak2 yg mengaku Slanker. Kejadian tersebut berlangsung pd tahun 2004 di depan Garden City Sukabumi, di pinggir jalan. Gw lawan semua laki2 itu yg jumlahnya dr 10 org, gw ga mau nyerah. Gw dihajar, gw brontak. Gw dihajar, gw brontak trs sampe tiba sirene mobil polisi. Untungnya gw ga luka serius hny memar2 di mata, dagu, leher, bahu, tangan dan kaki. Usut punya usut, ternyata mrk itu termakan isu oleh seseorang yg telah memfitnah gw dgn 'sukses' pake topik pembahasan yg ga perlu : 'Grunge itu kampungan' katanya. Yg gw ingin sampaikan dsni, gw sangat menyayangkan aksi makar dan kekerasan yg tentu sangat membuat bnyk pihak kecewa. Selama gw hdp di dunia musik dr 1 komunitas ke komunitas lain blm prnh ada niat utk menjatuhkan genre tertentu. Bahkan bs dibilang gw ga main musik hny krn sebuah genre. Musik itu dinamis n universal. Sudikah kalian para pembuat makar utk membebaskan gw berkarya sesuai keinginan gw? Bukankah hakikat seorang manusia itu adalah BEBAS menentukan pilihan? Semoga hal spt ini tidak akan pernah terulang kembali atau hanya akan melahirkan bibit kejahatan sampai memakan korban.


Terimakasih bnyk bwt tmn2 yg udh support gw, gw ketik ini ga pake bnyk nunggu n ngalir apa adanya aja.. Tetaplah berkarya..



Readmore »

Rabu, 14 Oktober 2009

Kurt....Sicide or Murder ?

Misteri Kematian Kurt Cobain


Mungkin kita mengetahui mengenai Kurt Cobain, mantan vokalis terkenal Nirvana. Berita gempar mengenai kematian Kurt Cobain pada 4 April 1994 mengejutkan semua pihak terutamanya para fans setianya. Kematiannya yang terjadi pada puncak popularitas dalam dunia musik.

Kematian Kurt Cobain dilaporkan oleh media massa Amerika sebagai ‘bunuh diri’ (suicide). Namun begitu, setahun selepas kematiannya itu timbul berbagai gosip angin tentang kematian Kurt. Gosip-gosip itu kelihatan lebih jelas dengan beberapa bukti yang ditemukan oleh beberapa orang penyelidik.

Salah seorang penyelidik sosial Stewart yang juga seorang pemerhati musik, percaya bahwa Kurt Cobain tidak bunuh diri tetapi dibunuh!. Stewart juga mendakwa bahwa Kurt dibunuh oleh seseorang, kemungkinan seorang anggota Mafia yang juga pernah mengintimidasi personel Nirvana lainnya karena enggan membayar uang keamanan/perlindungan.

Gosip lain pula mengatakan cerita bunuh diri Kurt hanya sebuah rekayasa. Kurt dikatakan masih hidup dan menikmati kehidupan di luar Amerika. Gosip itu juga menyebutkan, vokalis tersebut pernah terlihat berjalan-jalan di Rio De Jenario dan Paris. Selain itu, Kurt juga didakwa pernah terlihat di Disobey Club, di London, dipanggung-panggung theater serta di Festival Hackney Homeless. Selain itu, salah seorang fans pernah menyatakan pernah menjumpainya belanja di supermarket Kwik Save, kota Canning.

Cerita yang paling bisa dipercaya adalah mengenai Kurt Cobain mati kerana ia menjadi eksperimen CIA. Salah seorang yang terlibat dengan eksperimen CIA ini mencoba menghubungi Stewart untuk membeberkan fakta-fakta yang sebenarnya. Stewart setuju untuk bertemu dengan agen tersebut di Gereja Temple, Fleet Street. Stewart menjabarkan agen yang berjumpa dengannya itu sangat muda tetapi kelihatan seperti ketakutan ketika duduk di sampingnya. Menurut agen tersebut, CIA terlibat secara langsung tentang pengaruh-pengaruh musik popular atas golongan muda. Hal itulah yang menjadi puncak pada pembunuhan penyanyi-penyanyi terkenal sebelum ini seperti Brian Jones, John Lennon dan Jim Morrison.

Menurut agen teresebut, pihak CIA senantiasa memastikan bahwa aliran musik dan lirik yang dibawakan kurt Cobain mengandung nilai-nilai sentimen perkauman, sifat benci terhadap warna kulit yang berbeda dan hubungan sesama kaum. Dalam kasus Nirvana ini, khususnya Kurt Cobain, dia mungkin diyakini tidak mengikuti aturan yang dikehendaki oleh CIA sebagai mana yang disetujui bersama.

Informan itu juga memberitahu Stewart bahwa penyanyi-penyanyi telah diracuni pikiran mereka untuk melakukan tindakan 'bunuh diri’ ketika di saat mencapai puncak popularitas. Semua ini karena CIA mau memastikan para fans bersimpati pada vokalis tersebut dan terus menerus mendengar musik yang dinyanyikan, walaupun penyanyi atau band itu telah 'mati'.

Kebenaran ini dapat dilihat pada beberapa grup rock zaman dahulu dan sekarang yang masih digemari dan album-album mereka masih dibeli oleh kebanyakan fans misalnya Elvis Presley dan The Beatles.




Persoalan yang timbul sekarang, apakah tembakan itu datang dari tangannya sendiri? Laporan paling lengkap mengenai tragedi sebenarnya ini hanya diketahui 9 tahun selepas kejadian itu. Bekas penulis lagu-lagu rock dan penyanyi sebuah grup rock yaitu Max Wallace dan Ian Halperin menjabarkannya dalam buku mereka yang berjudul In Love and Death : The Murder of Kurt Cobain, diterbitkan pada 3 April 2004. Buku mereka ini berhasil membeberkan teori bahwa Kurt Cobain telah dibunuh (murdered) bukannya bunuh diri (suicide). Teori mereka disokong oleh bukti-bukti forensik polisi daerah Seattle.

Wallace dan Halperin menjabarkan pada saat kematiannya tahun 1994, Kurt Cobain telah meninggalkan isterinya Courtney Love dan membeli dua tiket penerbangan ke Seattle untuk dirinya dan seorang perempuan yang tidak dikenali. Courtney percaya perempuan tersebut adalah teman wanita Kurt.

Hal ini dibuktikan melalui laporan mereka yang mengatakan sejam sebelum kematiannya, Kurt telah hilang dari pusat pemulihan di Los Angelas, dia didapati telah menghubungi United Airlines untuk membeli tiket penerbangan yang masih belum digunakan sehingga sekarang.

Wallace dan Halperin dalam awal penyelidikannya, mereka mempelajari laporan forensik mayat Kurt yang dikeluarkan oleh Polisi Seattle. Catatan tersebut melaporkan Cobain telah mengkonsumsi heroin yang berlebihan sebelum bunuh diri dengan pistol. Mereka percaya seseorang telah memberikan sejenis bubuk kepada Kurt, kemudian menunggu Kurt menghisap bubuk tersebut hingga berfantasi dan akhirnya melepaskan tembakan. Tidak ada tanda atau sidik jari yang tinggal pada pistol Kurt Cobain. Namun hasil penyeldikan mendapati kemungkinan sekurang-kurangnya ada 3 orang berada bersamanya di kamar itu sebelum ia mati.

Kurt Cobain bukanlah orang pertama yang dibunuh, telah berpuluh-puluh artis terkenal yang dibunuh oleh agen-agen, karena tidak mengikut aturan dari pihak mereka. Terdapat banyak penyelidikan yang diterbitkan tetapi berhubung media massa Amerika milik sepenuhnya bangsa Yahudi, maka hal-hal demikian ditutup rapat tanpa diberi ruang untuk dipublikasikan kepada masyarakat.

Catatan bunuh diri Kurt Cobain


Readmore »

SURAT TERAKHIR


Berbicara tentang kurt cobain atau nirvana, tentunya masih ada satu ganjalan misteri tentang kematian kurt d. cobain sang frontman dari salah satu band asal seattle nirvana...berikut ini ada sedikit kutipan dari surat yang konon katanya ditulis oleh kurt d. cobain yang ditemukan di sebelah mayatnya...(meskipun hasil dari tes sidik jari forensik setempat menyebutkan bahwa tidak ada sidik jari kurt.dcobain di pena dan senjata yang digunakan untuk menembak kepalanya sendiri)

speaking from the tongue of an experienced simpletion who obviously would rather be an emasculated, infantile complain-ee. this note should be pretty easy to understand. all the warnings from the punk rock 101 courses over the years, since my first introduction to the, shall we say, ethics involved with independence and the embracement of your community has proven to be very true. i haven't felt the excitement of listening to as well as creating music along with reading and writing for too many years now. i feel guilty beyond words about these things. for example when we're backstage and the lights go out and the manic roar of the crowd begins, it doesn't affect me the way in which it did for freddy mercury, who seemed to love it, relish in the love and adoration from the crowd, which is something i totally admire and envy. the fact is, i can't fool you, any of you. it simply isn't fair to you or me. the worst crime i can think of would be to rip people off by faking it and pretending as is i'm having 100% fun. sometimes i feel as if i should have a punch-in time clock before i walk out on stage. i've tried everything within my power to appreciate it (and i do, god believe me i do, but it's not enough). i appreciate the fact that i and we have affected and entertained a lot of people. i must be one of those narcissists who only appreciate things when they're gone. i'm too sensitive. i need to be slightly numb in order to regain the enthusiasm i once had as a child. on our last 3 tours, i've had a much better appreciation for all the people i've known personally and as fans of our music, but i still can't get over the frustration, the guilt and empathy i have for everyone. there's good in all of us and i think i simply love people too much, so much that it makes me feel too fucking sad. the sad little sensitive, unappreciative, pisces, jesus man. why don't you just enjoy it? i don't know! i have a goddess of a wife who sweats ambition and empathy and a daughter who reminds me too much of what i use to be, full of love and joy, kissing every person she meets because everyone is good and will do her no harm. and that terrifies me to the point where i can barely function. i can't stand the thought of frances becoming the miserable, self-destructive, death rocker that i've become. i have it good, very good, and i'm grateful, but since the age of seven, i've become hateful to all humans in general. only because it seems so easy for people to get along and have empathy. only because i love and feel sorry for people too much i guess. thank you all from the pit of my burning, nauseous stomach for your letters and concern during the past years. i'm too much of an erratic, moody, baby! i don't have the passion anymore, and so remember, it's better to burn out then to fade away.

peace, love, empathy kurt cobain
frances and courtney, i'll be at your altar. please keep going courtney, for frances. for her life, which will be so much happier without me. I LOVE YOU, I LOVE YOU!

versi asli


Readmore »

Kurt and Nirvana Film

Film Kurt Cobain dan Musik Nirvana Film pertama tentang kurt kobain dari universal pictures akan menjadi film pertama yang menggunakan musik band nirvana. Dilaporkan bahwa Universal Pictures membeli hak dari Charles R Cross yang merupakan penulis biography Kurt Kobain "Heavier Than Heaven". Cross juga mengatakan Universal telah membeli kombinasi dari hak untuk buku dan hak untuk lagu2 nirvana yang telah di miliki oleh Courtney Love. "Film Kurt cobain tidak akan sempurna jika tidak dibarengin dengan musik dari Nirvana", ucap juru bicara dari Universal Pictures. source : The Beat Magz
Readmore »

Sabtu, 10 Oktober 2009

Havier Than Heaven


POPULARITAS menjadi impian hidup yang jamak menghinggapi kalangan muda yang menghirup udara awal milenia ketiga. Jika kesuksesan dapat didefinisikan, popularitas termasuk ke dalam salah satu ciri utamanya. Belakangan ini, di berbagai stasiun televisi kita gencar sekali disajikan tayangan-tayangan semacam reality show yang memikat kalangan muda dengan janji pemenuhan obsesi popularitas mereka.

Tidak banyak orang yang berpikir tentang sisi gelap popularitas. Popularitas terlalu sering diidentikkan dengan tahap pencapaian yang memungkinkan seseorang dapat menikmati hidup dengan segala kemudahan dan kenyamanannya.

Kisah hidup Kurt Cobain, vokalis kelompok Nirvana yang oleh majalah Rolling Stones dimasukkan ke dalam kategori 50 artis terbaik sepanjang masa, berakhir dengan tragedi bunuh diri. Hal itu dipaparkan dengan baik dalam buku Heavier Than Heaven; Biografi Kurt Cobain. Melalui buku itu, Charles R Cross ingin mengatakan bahwa

popularitas ternyata juga menyimpan sisi-sisi kelam yang kadang terasa absurd.

Kurt Cobain lahir di Aberdeen, sebuah kota yang khas dengan industri penggergajian di negara bagian Washington, 20 Februari 1967. Sejak kecil ia sudah memperlihatkan berbagai bakat dan kecerdasan, baik di bidang olahraga maupun seni. Kurt masuk dan berperan besar dalam tim bisbol dan gulat di sekolah. Dia juga sangat menyukai pelajaran seni dan senang melukis.

Tapi kehidupan Kurt dalam keluarganya begitu suram, terutama sejak perceraian kedua orang tuanya, ketika ia berusia sembilan tahun. Peristiwa itu menjadi bencana emosional terbesar dalam hidupnya. Kurt jadi membenci kedua orang tuanya. Apalagi ketika ayahnya menikah lagi dan ibunya berpacaran dengan pemuda yang umurnya hanya tujuh tahun lebih tua darinya.

Peristiwa itu mengubah Kurt menjadi sosok pemurung, tertutup, dan berandal. Kurt kemudian mulai berkenalan dengan dunia obat-obatan hingga akhirnya putus sekolah.

Jalan menuju popularitas Kurt di jalur musik juga tidak mudah diraih. Di masa-masa awal sebelum sukses, Kurt bersama personel Nirvana lainnya kadang harus menempuh jarak ratusan hingga ribuan mil untuk melangsungkan konser promosi album pertamanya, Bleach. Penontonnya pun kadang cuma 20 atau belasan orang. Bayarannya hanya cukup untuk mengganti bensin.

Tapi semua perjuangan keras Kurt terbayar ketika album kedua Nirvana, Nevermind, hadir dengan hentakan dahsyat sehingga mengguncang peta musik internasional. Album yang dirilis September 1991 itu dengan cepat bertengger di puncak teratas tangga lagu Billboard, menggeser Dangerous-nya Michael Jackson. Seiring dengan itu pula, popularitas Kurt dan Nirvana mencuat luar biasa.

Pada titik inilah kemudian pelan-pelan mulai terlihat sisi-sisi suram popularitas sebagaimana dialami Kurt. Sikap dan gaya hidup Kurt yang memang penuh kontradiksi dan kontroversi, keterlibatannya dengan dunia narkoba, menurut pengakuan Kurt juga dipicu oleh penyakit perut yang dideritanya sejak lama. Kisah kehidupan keluarganya dengan Courtney Love, semua menjadi bahan menarik untuk diangkat media.

Pemberitaan dari tabloid The Globe dan majalah Vanity Fair tidak lama setelah kelahiran anaknya, Frances, misalnya. Bagi Kurt dan istrinya tampak seperti penghakiman bahwa keduanya tak berhak mengasuh anaknya itu, dengan mengabaikan kenyataan bahwa Frances lahir dengan sehat. Karena itulah, pada tingkat tertentu, Kurt kadang mengalami semacam paranoid terhadap media, khawatir bila ternyata apa yang diberitakan tentangnya justru sesuatu yang tak ia sukai--entah itu karena berupa fitnah maupun semacamnya.

Rasa putus asa dalam mengatasi problem kecanduannya serta untuk memperbaiki kehidupan keluarganya, baik dalam relasinya dengan kedua orang tuanya maupun keluarganya sendiri, mengantarkan Kurt pada satu kondisi depresi yang luar biasa. Akhirnya, di awal April 1994, Kurt ditemukan bunuh diri di rumahnya dengan meledakkan kepalanya sambil mengonsumsi obat-obatan, setelah beberapa hari sebelumnya kabur dari rumah sakit di Los Angeles, tempat ia dirawat untuk mengatasi kecanduannya.

Meninggalnya Kurt akibat bunuh diri ini menambah daftar panjang para artis dan orang-orang ternama lainnya yang mengakhiri hidup dengan cara yang tragis itu. Sebelumnya tercatat nama Jim Morrison, Jimi Hendrix, dan Janis Joplin, para musisi yang secara kebetulan sama-sama meninggal di usia 27, seperti juga Kurt.

Readmore »

Selasa, 29 September 2009

PEARL JAM


Grup musik Pearl Jam dibentuk pada 1990 di Seattle, Washington, Amerika Serikat. Grup ini majadi salah satu kelompok musik rock yang sukses di tahun 1990-an, sebagi salah satu pelopor musik grunge.

Pertama kali merilis album pada 1991, berjudul Ten dan langsung melejit sebagai ikon musik rock alternatif. Kemudian, pada 1993, Pearl Jam kembali merilis album bertitle VS yang populer dengan lagu Daughter, Go dan Rearviewmirror.

Satu tahun kemudian, album ketiga, Vitalogy dirilis, sekaligus menjadi album terakhir bersama ang drummer Dave Abruzzese. Dave diganti oleh mantan drummer Red Hot Chilli Pepper, Jack Irons.

Pada 1994 bagi Pearl Jam juga menjadi tahun penuh kenangan, ketika mereka mengeluarkan tuntutan terhadap dugaan monopoli yang dilakukan promotor konser mereka, Ticketmaster. Perkara ini dimenangkan Ticketmaster dan membuat Pearl Jam tidak bisa tampil di seluruh Amerika.

Baru pada 1996, Pearl Jam kembali merilis album berjudul No Code, menyusul album Yield, yang sekaligus menjadi album terakhir bagi Jack Irons, karena permasalahan kesehatan ia haru s keluar dari Pearl Jam.

Jack kemudian digantikan mantan drummer Soundgarden, Matt Cameron hingga sekarang. Bersama Matt Cameron, Pearl Jam merilis tiga album, masing-masing Binaural (2000), Riot Act (2003) dan album terakhir Pearl Jam (2006).
Readmore »

Sabtu, 26 September 2009

Nirvana - Bleach Rilis Ulang


Dalam rangka untuk merayakan ulang tahun perilisan album pertama mereka yaitu "Bleach" dikabarkan akan dirilis ulang. Album Bleach tepat berusia 20 tahun sejak pertama kali dirilis oleh Nirvana tepat pada tahun 1989 lalu.
Nirvana selama berkarir sudah merilis beberapa album sejak karirnya yang berlangsung dari tahun 1989 - 1994, dengan masterpiece mereka yang secara komersial sukses besar yaitu album "Nevermind" yang mengandalkan hits "Smell Like teen Spirit" dan album ini sukses terjual lebih dari angka 26 juta kopi diseluruh dunia.
Album "Bleach : Deluxe Edition" ini akan dirilis dalam bentuk double CD ini akan memasukkan track-track original seperti pada saat dirilis 20 tahun lalu. Dan nanti juga akan dimasukkan lagu-lagu yang direkam oleh Nirvana secara live yang tidak pernah dirilis. Ini merupakan rekaman live waktu Nirvana melakukan show dipad 9 Februari 1990 di Portland's Pine Street Theatre.
Dan dalam penampilan itu juga menampilkan live version dari Kurt Cobain waktu menyanyikan "Love Buzz", Single miliknya The Vaselines "Molly's Lips" dan single "About A Girl" yang akhirnya dirilis secara komersial oleh Nirvana pada saat merilis album MTV Uplugged pada tahun 1994 yang lalu.
Dan didalam album ini juga akan ada 16 halaman booklet yang isinya merupakan foto-foto Nirvana yang belum pernah dirilis ke media atau publik. Selain itu, double album ini juga akan dirilis dalam bentuk white vinyl sama seperti pada saat merilis album ini ditahun 1989.
Track List for Nirvana's "Bleach : Deluxe Edition"
Original CD Tracklisting:
'Blew'
'Floyd The Barber'
'About a Girl'
'School'
'Love Buzz'
'Paper Cuts'
'Negative'
'Creep'
'Scoff'
'Swap Meet'
'Mr. Moustache'
'Sifting'
'Big Cheese'
'Downer'

Live at Pine Street Theatre
'Intro'
'School'
'Floyd The Barber'
'Dive'
'Love Buzz'
'Spank Thru'
'Molly's Lips'
'Sappy'
'Scoff'
'About A Girl'
'Been A Son'
'Blew'

Readmore »

NIRVANA


Nirvana, Sebuah Band yang awalnya didirikan oleh Kurt Cobain (gitar, vokal)& Krist Novoselic (bass), mereka berdua adalah pemuda yang tinggal di kota seattle, washington. band ini terbentuk di akhir tahun 80-an dimana pada tahun itu musik metal dan disko sedang mengalami masa kejayaan, tapi kurt cobain dan teman-temannya ternyata lebih suka mendengarkan musik punk yang sebenarnya kurang diminati remaja-remaja di dunia pada umumnya. tapi itulah remaja-remaja yang ada di kota aberdeen, kota dimana kurt dan krist dibesarkan, mereka dibesarkan dari lingkungan dimana para pemudanya lebih suka bermusik daripada aktifitas lainnya. sampai akhirnya kurt cobain, krist novoselic dan salah satu temannya chad channing (drum) membentuk sebuah band yang bernama awal Fecal matters hingga menemukan nama yang tepat yaitu Nirvana.

aliran musik yang dibawakan oleh mereka sebenarnya sama seperti yang dibawakan oleh band-band lain di kota seattle, tapi wartawan musik pada waktu itu kebingungan akan karakter musik yang dibawakan oleh band-band dari seattle itu. hingga akhirnya sebuah label meluncurkan sebuah album kompilasi dari band-band dari seattle yang kemudian para wartawan menemukan sebuah nama yang cocok untuk jenis musik yang mereka mainkan yaitu GRUNGE.

Nirvana hanyalah sebagian dari banyaknya band grunge di seattle tapi karena nirvanalah grunge mulai disukai remaja di dunia, ini karena di nirvana kita bisa melihat grunge sebenarnya mulai dari tingkah laku para personil, idealisme dan yang pasti musiknya. karakter grunge sebenarnya gabungan antara musik punk dan metal yang banyak menonjolkan distorsi gitar. single-single awal nirvana banyak disukai hingga mereka harus melakukan konser dari amerika sampai ke eropa, album pertamanya BLEACH laris manis dipasaran, dari sinilah nama nirvana mulai diperhitungkan dalam industri musik hingga akhirnya mereka dikontrak oleh geffen records yang juga dinaungi band rock terkenal GNR, di album kedua ini kurt cobain selaku frontman dan songwriter dari nirvana terpaksa harus memecat chad channing alasannya simple hanya karena chad kurang bertenaga dalam permainan drumnya.

hingga akhirnya mereka menemukan drummer yang tepat yaitu dave grohl, dengan masuknya dave grohl maka musik nirvana terlihat jauh lebih atraktif. dengan ditangani oleh produser handal akhirnya mereka meluncurkan sebuah album paling fenomenal di dunia NEVERMIND dengan single hitsnya Smells Like Teen Spirit, total nirvana telah meluncurkan 8 album internasional dan puluhan single yang semuanya diburu para Grunger sampai saat ini.dengan munculnya Nirvana hampir semua remaja di dunia banyak yang mengidolakan mereka dari atribut sampai tingkah laku kurt cobain yang boleh dibilang apa adanya. mungkin dari “kesederhanaan” itulah kurt cobain banyak disukai remaja di dunia. itulah era dimana grunge berjaya penuh atas jenis musik lain hingga banyak label yang memburu band-band dari kota seattle untuk melahirkan “nirvana-nirvana” baru hingga pada akhirnya kurt cobain memilih mangkat dengan berbagai kontroversi tentang akibat kematiannya pada bulan april 1994. kini dunia seakan menantikan siapa lagi “aktor-aktor” baru di industri musik yang sepertinya berjalan “biasa-biasa” saja. semoga!
Readmore »