Tampilkan postingan dengan label Grunge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Grunge. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Desember 2009

GRUNGE : SEBAGAI SUBKULTUR DAN GAYA


Saya tidak begitu tahu segalanya mengenai sejarah masuknya Grunge ke Indonesia atau siapa yang pertama kali mengusung bendera Grunge di tanah air ini. Nama TOILET SOUND muncul di benak saya dengan pertimbangan bahwa mereka adalah band Grunge dari Jakarta yang sering manggung di POSTER Café tahun 1996, dimana pada saat itu sangat sedikit band pengusung Grunge semacam mereka bisa gigs disandingkan dengan band-band Underground Indonesia generasi pertama seperti Brain The Machine, Bloody Gore, Jepit Rambut, Dead Pits, Rumah Sakit, dan lain-lain yang sudah getol pentas di POSTER café. 

Tapi saya mohon maaf sebesar-besarnya bahwa saya tidak akan mengulas siapa-siapa para “pendekar” Grunge, disini saya hanya akan membahas segi antropologi musik Grunge saja. Kajian tentang cara mengenali suatu budaya dari komunitas tertentu dan menghubungkannya dengan kehidupan sosial masing-masing individu yang berpengaruh juga terhadap komunitas Grunge Indonesia. 

Kita tahu Grunge itu memiliki karakteristik gaya yang tidak jauh berbeda dengan subkultur lainnya (terkesan urakan). Jeans bolong, flannel, sepatu kets, dan rambut panjang yang jarang dikeramas. Tapi sebenarnya Grunge justru lahir karena kemuakan generasi muda terhadap gaya. Dimulai sejak akhir tahun 1980-an, para generasi muda dari Seattle Sound merombak segala bentuk gaya menjadi sesuatu yang “tak bergaya” sama sekali. Terkesan menjijikan karena teramat kotor dan jauh dari segala bentuk yang “cemerlang” apalagi mewah. Jika analogi tersebut murni adanya, lalu mengapa saat ini di era 20 tahun telah berlalu, dimana flannel telah menjadi suatu gaya yang usang, anak-anak Grunge masih memakai segala atribut tersebut? Bagaimana jika kita lebih menitikberatkan pada yang “terkesan menjijikan karena teramat kotor dan jauh dari segala bentuk yang “cemerlang” apalagi mewah” itu? Flannel, jeans bolong, sepatu kets sudah tidak lagi terkesan urakan sebagai akibat komoditas bisnis di bidang fashion yang telah “menjual” ke-grungy-an Seattle Sound. 

Akar permasalahan yang sering dibicarakan mengenai musik independen tidak akan jauh-jauh dari persoalan tentang gaya/fashion. Saya juga agak terganggu dengan orang-orang yang selalu mempertanyakan kenapa gaya atau fashion itu terkesan dipentingkan dalam pergerakan subkultur. Ok, saya ajak kalian untuk menilik tulisan Dick Hebdige dari bukunya yang berjudul “Asal-Usul dan Ideologi Subkultur Punk” (Subculture ; The Meaning Of Style Routledge, London dan New York, 1999, Cetakan XIII. Diterbitkan pertama kali oleh Methuen & Co. Ltd. 1979). Ya, mungkin agak terkesan aneh kenapa saya lebih memilih referensi dari buku-buku Punk, tak lain karena sesungguhnya semua kode etik Do It Yourself memang lahir karena Punk. Dalam buku tersebut diatas dikatakan bahwa gaya memiliki tujuan dan karakteristik tertentu, yaitu :
1. GAYA SEBAGAI KOMUNIKASI INTENSIONAL. Mengartikulasikan kode dan praktik spesifik.
2. GAYA SEBAGAI BRICOLAGE. Menegaskan perbedaan subkultur dari formasi budaya yang lebih ortodoks. Mengacu pada sarana dengan apa pikiran nir-terpelajar, nir-teknis dari apa yang kita sebut manusia “primitif” menanggapi dunia sekitarnya. Proses ini memakai “sains konkret” (sebagai lawan dari sains “beradab” kita yg “abstrak”), jauh dari tak memiliki logika, ternyata ia disusun dengan saksama dan cermat, dengan menggolong-golongkan dan menata rincian remeh di dunia fisik yang demikian melimpah ruah itu menjadi struktur, dengan memakai sarana “logika” yang bukan milik kita sendiri. Struktur ini, “diimprovisasikan” atau dibuat-buat (ini terjemahan kasar dari bricoleur) sebagai tanggapan ad hoc terhadap suatu lingkungan. Ia kemudian berperan dalam menyusun homologi dan analogi antara yg disusun alam dan yang disusun masyarakat, dan dgn sangat memuaskan “menjelaskan” dunia ini dan membuatnya dapat dihuni.
3. GAYA MEMBERONTAK : GAYA “MENJIJIKKAN”. Mengekspresikan penyimpangan dengan pengertian proletarian yang sepadan.
4. GAYA SEBAGAI HOMOLOGI. Melukiskan kecocokan simbolik antara nilai-nilai dan gaya hidup suatu kelompok, pengalaman subjektif serta forma musik yang dipakai untuk mengekspresikan atau memperkuat kepedulian pokok.
5. GAYA SEBAGAI PRAKTIK SIGNIFIKASI. Menguak sejumlah makna tersembunyi yang baku, dibuang demi gagasan polisemi di mana masing-masing teks dipandang membangkitkan kisaran makna yang tak terbatas kemungkinannya.

Sedangkan Simbolik adalah bagian besar bahasa yang menamai dan menghubungkan segala sesuatu, inilah kesatuan dari KOMPETENSI SEMANTIK dan SINTATIK yang memungkinkan tampilnya komunikasi dan nalar. 

Menilik dari pembahasan gaya dalam buku tersebut bahwa gaya/fashion juga merupakan salah satu senyawa penting dalam berekspresi sehingga kita dapat mengenali maksud dan tujuan dari gaya yang diterapkan seorang individu maupun kelompok. Musik dan fashion tidak akan pernah lepas satu sama lain. Sebab keduanya merupakan pengejewantahan kebebasan berekspresi dalam segi estetika maupun adab. 

Grunge lebih dekat kesamaannya dengan ciri khas Punk, memiliki gambaran „menjijikan“ masing-masing yang bagi sebagian besar masyarakat tidak nyaman untuk dipandang. Disini kita berhadapan dengan gaya sebagai pemberontakan terhadap sistem yang menyimpang, bertujuan untuk merombak segala kemapanan yang bodoh dan menindas. Generasi muda sudah bosan dengan segala atribut gaya hasil buatan pabrik dimana corak budayanya berbau proletarian/pemaksaan dan menuntut mereka untuk seragam. Bosan dengan keadaan yang itu-itu saja dan berharap dengan melakukan perubahan akan membuat hidup mereka menjadi lebih nyaman untuk dijalani. 

Meskipun ada hubungan erat, integritas kedua forma ini tetap dipertahankan dengan cermat. Jauh dari meniru forma lain dan cenderung berkembang menjadi antitesis langsung dari sumber-sumbernya yang nyata. Namun, cara kedua forma ini dipisahkan dengan ketat, seolah-olah hendak membawa kita kepada identitas tersembunyi, yang pada gilirannya dapat dipakai untuk menjelaskan pola interaksi. Grunge dan Punk secara metaforis dapat diperluas ke isu ras dan hubungan ras yang lebih besar sehingga terjadi krisis identitas, berkaitan dengan kontradiksi dan ketegangan lebih umum yang menghalangi berkembangnya dialog terbuka antar kultur. 

Ketika suatu musik dan aneka subkultur yang didukung atau reproduksi mengalami kekakuan dan dapat dikenali polanya, terciptalah subkultur baru yang membutuhkan mutasinya dalam bentuk musik. Mutasi ini baru terjadi ketika overdeterminasi musik Seattle Sound merusak struktur musik yang telah ada dan mendesak berbagai unsurnya ke suatu figurasi baru, sebagai contoh yaitu ketika Nirvana sukses menggeser posisi King Of Pop Michael Jackson di peringkat teratas industri musik dunia pada tahun 1991, budaya Pop yang merajai tahun 80an pun menjadi mati dan diganti dengan wajah Grunge sebagai mutasi untuk figurasi baru tersebut : celana sobek, sepatu kets (Converse), rambut acak yang kesemuanya merupakan ciri khas Kurt Cobain, menjadi trend di kalangan anak muda dunia. 

Grunge dengan demikian termasuk ke dalam forma ekspresif sebagai bentuk resistensi di mana kontradiksi yang dialami maupun penolakan terhadap ideologi yang berkuasa secara tak langsung direpresentasikan lewat gaya. Melahirkan tampilan dan sound baru yang menjadi umpan balik bagi industri-industri yang sesuai (forma komoditas). Seperti dicatat John Clark : „penyebar luasan gaya pemuda dari subkultur menuju ke pasar fashion bukan sekedar proses kultural, melainkan suatu jejaring atau jenis baru institusi komersial dan ekonomi. Toko-toko rekaman berskala kecil, perusahaan rekaman, butik atau perusahaan produksi yang dikelola satu dua perempuan – kapitalisme versi artisan ini, alih-alih fenomena yang berlaku umum dan tak khas, menjadi konteks dialektika manipulasi komersial tersebut.“
















Sumber : catatan Mirantie Lee Boreel
Readmore »

Sabtu, 12 Desember 2009

DOWNLOAD FULL ALBUM

Musik grunge terbilang aliran musik yang masih jarang di Indonesia..untuk itu saya berharap dengan adanya link download ini berharap grunge dapat lebih berkembang..berikut album2 dari band2 grunge yang pernah dan masih ada..(maaf sebelumnya kalau belum semua saya lampirkan dalam tulisan ini...saya masih nge cek link download yang lain apa masih berlaku atau tidak...menyusahkan atau tidak..)

Silverchair – Neon Ballroom(1999)
tracklist:
1. Emotion Sickness 6:00
2. Anthem For The Year 2000 4:07
3. Ana’s Song (Open Fire) 3:42
4. Spawn (Again) 3:27
5. Miss You Love 4:00
6. Dearest Helpless 3:34
7. Do You Feel The Same 4:18
8. Black Tangled Heart 4:33
9. Point Of View 3:35
10. Satin Sheets 2:24
11. Paint Pastel Princess 4:33
12. Steam will rise
  1. Silverchair - Diorama
  2. Silverchair - Freak Show
Readmore »

Senin, 07 Desember 2009

TERUSIK

Baru-baru ini di facebook muncul sebuah grup yang menamakan dirinya "Anti Grunge"..saya tidak tahu apa maksud dan tujuan dibuatnya itu group, namun saya merasakan sedikit kecewa karena mereka membawa nama slankers, dengan demikian hal tersebut dapat mengakibatkan timbulnya perselisihan antara kami (people grunge) dengan komunitas slankers.
Saya juga merasa prihatin dan kasihan untuk para ADMIN dalam group tersebut karena mereka tidak benar benar mengerti atau bahkan mengetahui tentang bermusik, mereka hanya sekelompok bocah ingusan yang ingin eksis di dunia maya, namun dengan cara yang salah. Kalian bebas mengekspresikan diri dan kepribadiaan kalian hanya saja dengan jalur dan cara yang benar,,kami yang notabene anak anak grunge (atas nama seluruh group grunge baik lokal maupun tingkat nasional) tidak akan tinggal diam dengan semua penghinaan ini...
Entah apa lagi yang harus saya tulis untuk mengekspresikan kekecewaan ini...
To All People Grunge : "Bangkit dan melawan"
Beberapa contoh kasus yang pernah dialami oleh saudara kita sesama anak grunge
kejadian ini dialami oleh saudara kita  Mirantie Lee Boreel


Apa yg akan gw ceritakan disini adalah betul2 terjadi, tidak ada rekayasa. 

Menanggapi masalah adanya grup FB 'ANTI GRUNGE' & 'ANTI GRUNGE SUKABUMI' telah menyinggung banyak pihak baik di dlm maupun luar komunitas Grunge. Sudah sering kali terjadi wacana perseteruan antara gw pribadi dgn bbrapa anak2 yg ngakunya anak musik di Sukabumi jg. Bawa nama Slanker lah, Punk lah, dll. Awal perseteruan hny brlangsung di bbrpa acara musik yg menyebabkan bnyk pertikaian, pengkotakan, rusuh antar komunitas. Perseteruan smakin memuncak ketika pd suatu dini hari gw, Mirantie Lee Boreel, dikeroyok dan dipukuli sendirian oleh anak2 yg mengaku Slanker. Kejadian tersebut berlangsung pd tahun 2004 di depan Garden City Sukabumi, di pinggir jalan. Gw lawan semua laki2 itu yg jumlahnya dr 10 org, gw ga mau nyerah. Gw dihajar, gw brontak. Gw dihajar, gw brontak trs sampe tiba sirene mobil polisi. Untungnya gw ga luka serius hny memar2 di mata, dagu, leher, bahu, tangan dan kaki. Usut punya usut, ternyata mrk itu termakan isu oleh seseorang yg telah memfitnah gw dgn 'sukses' pake topik pembahasan yg ga perlu : 'Grunge itu kampungan' katanya. Yg gw ingin sampaikan dsni, gw sangat menyayangkan aksi makar dan kekerasan yg tentu sangat membuat bnyk pihak kecewa. Selama gw hdp di dunia musik dr 1 komunitas ke komunitas lain blm prnh ada niat utk menjatuhkan genre tertentu. Bahkan bs dibilang gw ga main musik hny krn sebuah genre. Musik itu dinamis n universal. Sudikah kalian para pembuat makar utk membebaskan gw berkarya sesuai keinginan gw? Bukankah hakikat seorang manusia itu adalah BEBAS menentukan pilihan? Semoga hal spt ini tidak akan pernah terulang kembali atau hanya akan melahirkan bibit kejahatan sampai memakan korban.


Terimakasih bnyk bwt tmn2 yg udh support gw, gw ketik ini ga pake bnyk nunggu n ngalir apa adanya aja.. Tetaplah berkarya..



Readmore »

Selasa, 29 September 2009

PEARL JAM


Grup musik Pearl Jam dibentuk pada 1990 di Seattle, Washington, Amerika Serikat. Grup ini majadi salah satu kelompok musik rock yang sukses di tahun 1990-an, sebagi salah satu pelopor musik grunge.

Pertama kali merilis album pada 1991, berjudul Ten dan langsung melejit sebagai ikon musik rock alternatif. Kemudian, pada 1993, Pearl Jam kembali merilis album bertitle VS yang populer dengan lagu Daughter, Go dan Rearviewmirror.

Satu tahun kemudian, album ketiga, Vitalogy dirilis, sekaligus menjadi album terakhir bersama ang drummer Dave Abruzzese. Dave diganti oleh mantan drummer Red Hot Chilli Pepper, Jack Irons.

Pada 1994 bagi Pearl Jam juga menjadi tahun penuh kenangan, ketika mereka mengeluarkan tuntutan terhadap dugaan monopoli yang dilakukan promotor konser mereka, Ticketmaster. Perkara ini dimenangkan Ticketmaster dan membuat Pearl Jam tidak bisa tampil di seluruh Amerika.

Baru pada 1996, Pearl Jam kembali merilis album berjudul No Code, menyusul album Yield, yang sekaligus menjadi album terakhir bagi Jack Irons, karena permasalahan kesehatan ia haru s keluar dari Pearl Jam.

Jack kemudian digantikan mantan drummer Soundgarden, Matt Cameron hingga sekarang. Bersama Matt Cameron, Pearl Jam merilis tiga album, masing-masing Binaural (2000), Riot Act (2003) dan album terakhir Pearl Jam (2006).
Readmore »

Sabtu, 26 September 2009

NIRVANA


Nirvana, Sebuah Band yang awalnya didirikan oleh Kurt Cobain (gitar, vokal)& Krist Novoselic (bass), mereka berdua adalah pemuda yang tinggal di kota seattle, washington. band ini terbentuk di akhir tahun 80-an dimana pada tahun itu musik metal dan disko sedang mengalami masa kejayaan, tapi kurt cobain dan teman-temannya ternyata lebih suka mendengarkan musik punk yang sebenarnya kurang diminati remaja-remaja di dunia pada umumnya. tapi itulah remaja-remaja yang ada di kota aberdeen, kota dimana kurt dan krist dibesarkan, mereka dibesarkan dari lingkungan dimana para pemudanya lebih suka bermusik daripada aktifitas lainnya. sampai akhirnya kurt cobain, krist novoselic dan salah satu temannya chad channing (drum) membentuk sebuah band yang bernama awal Fecal matters hingga menemukan nama yang tepat yaitu Nirvana.

aliran musik yang dibawakan oleh mereka sebenarnya sama seperti yang dibawakan oleh band-band lain di kota seattle, tapi wartawan musik pada waktu itu kebingungan akan karakter musik yang dibawakan oleh band-band dari seattle itu. hingga akhirnya sebuah label meluncurkan sebuah album kompilasi dari band-band dari seattle yang kemudian para wartawan menemukan sebuah nama yang cocok untuk jenis musik yang mereka mainkan yaitu GRUNGE.

Nirvana hanyalah sebagian dari banyaknya band grunge di seattle tapi karena nirvanalah grunge mulai disukai remaja di dunia, ini karena di nirvana kita bisa melihat grunge sebenarnya mulai dari tingkah laku para personil, idealisme dan yang pasti musiknya. karakter grunge sebenarnya gabungan antara musik punk dan metal yang banyak menonjolkan distorsi gitar. single-single awal nirvana banyak disukai hingga mereka harus melakukan konser dari amerika sampai ke eropa, album pertamanya BLEACH laris manis dipasaran, dari sinilah nama nirvana mulai diperhitungkan dalam industri musik hingga akhirnya mereka dikontrak oleh geffen records yang juga dinaungi band rock terkenal GNR, di album kedua ini kurt cobain selaku frontman dan songwriter dari nirvana terpaksa harus memecat chad channing alasannya simple hanya karena chad kurang bertenaga dalam permainan drumnya.

hingga akhirnya mereka menemukan drummer yang tepat yaitu dave grohl, dengan masuknya dave grohl maka musik nirvana terlihat jauh lebih atraktif. dengan ditangani oleh produser handal akhirnya mereka meluncurkan sebuah album paling fenomenal di dunia NEVERMIND dengan single hitsnya Smells Like Teen Spirit, total nirvana telah meluncurkan 8 album internasional dan puluhan single yang semuanya diburu para Grunger sampai saat ini.dengan munculnya Nirvana hampir semua remaja di dunia banyak yang mengidolakan mereka dari atribut sampai tingkah laku kurt cobain yang boleh dibilang apa adanya. mungkin dari “kesederhanaan” itulah kurt cobain banyak disukai remaja di dunia. itulah era dimana grunge berjaya penuh atas jenis musik lain hingga banyak label yang memburu band-band dari kota seattle untuk melahirkan “nirvana-nirvana” baru hingga pada akhirnya kurt cobain memilih mangkat dengan berbagai kontroversi tentang akibat kematiannya pada bulan april 1994. kini dunia seakan menantikan siapa lagi “aktor-aktor” baru di industri musik yang sepertinya berjalan “biasa-biasa” saja. semoga!
Readmore »